Renungan, Senen 27 April 2020


Syalom ….mejuah-juah….. selamat pagi.  
Hari yang baru…. Hari-hari yang menyenangkan.   

Kejadian 12:1-2
Berfirmanlah Tuhan kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu. Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.  

Panggilan Tuhan kepada Abram dari Ur-Kasdim ke Haran, maka dalam nats ini  merupakan panggilan yang kedua, yakni dari dari Haran ke tanah Kanaan. Ini terjadi karena Abram masih membawa keluarganya. Setelah ayahnya meninggal di Haran, Tuhan kembali mengulangi perintahNya kepada Abram. Ini menunjukkan betapa Abram sangat bergumul untuk mentaati perintah Tuhan itu.  Ketika seseorang percaya kepada Kristus, itu bukan karena pilihannya sendiri melainkan karena Tuhanlah yang telah memilih, menentukan, menebus, dan memeteraikan kita (Ef. 1:4-14). Panggilan Tuhan menuntut ketaatan sama seperti Abraham, yang didalamnya ada kerelaan dan penyerahan diri sepenuhnya hanyalah kepada Tuhan saja.   

  Nats ini, fokus utamanya  bukan kepada janji atau berkat, tetapi kepada  perintah Tuhan.  Kata “Pergilah ….” dan kata “…. engkau akan menjadi berkat” artinya pergilah supaya engkau menjadi berkat  Jadi Tuhan menghendaki agar melalui ketaatannya, Abraham menjadi saluran berkat bagi hidup orang lain. Tentunya Abraham membutuhkan perjuangan iman yang tinggi supaya ia benar-benar bergantung hanya kepada Tuhan.  Semua orang menghendaki hidupnya, keluarganya, diberkati oleh Tuhan, dan nats ini memberikan suatu pemahaman yang baru bahwa berkat adalah hasil dari suatu ketaatan kita dalam menjalankan printah yang diberikan oleh Tuhan dengan segenap hati.   

Suatu tantangan besar, ketika Tuhan menghendaki kita menjadi berkat bagi orang lain dalam kondisi saat ini, sebab  sudah banyak saudara-saudara, teman-teman yang harus ditopang dan ditolong karena keadaan ekonomi dan kesehatan yang menurun. Namun masih banyak berbuat kasih hanya sebatas simpati saja, artinya hanya sebatas kata-kata yang dipromosikan, contohnya: saudara kita si A, si B, aduh … kasihan ya…mari kita doakan. Tuhan menuntut ketaatan dalam panggilanNya, sampai emphaty dengan merelakan sesuatu yang berharga untuk diberikan kepada Tuhan dan itulah Abraham. Jadi saat ini Tuhan Yesus dengan lembut memanggil yang lelah, yang sesat, marilah..... 

  
Mari Berdoa: 
Salam berjuang menjadi berkat. TYM


Komentar

Postingan populer dari blog ini