Renungan Rabu tgl 13 Mei 2020
Syalom ….mejuah-juah….. selamat
pagi.
Hari yang baru…. hari yang membawa
berkat
Matius 5:5
Berbahagialah
orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
Lemah lembut (Kamus bahasa Indonesia) baik hati, suka menurut. Dalam bahasa Yunani-Praus : penurut, sabar, dan rendah hati. Tuhan akan memberikan
bumi kepada orang-orang sabar, tabah dan lemah lembut, bukan kepada orang yang
pendek kesabarannya, cepat emosi, kasar, cepat mengeluh, lekas panas dan keras hatinya maupun kepalanya. Dalam Bilangan
12:3 Adapun Musa ialah seorang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap
manusia yang di atas muka bumi. Seperti apa lembut hatinya Musa? Musa harus memimpin bangsa besar keluar dari
Mesir menuju tanah perjanjian, prosesnya 40 tahun. Bangsa Israel yang harus ia pimpin bukan
tenang dan sabar tetapi tegar tengkuk alias keras kepala. Bukannya bersyukur
atas campur tangan Tuhan yang melindungi mereka selama masa perjalanan, tetapi terus bersungut-sungut, berkeluh kesah, protes, mengolok-olok,
menyudutkan, menyindir, sinis dan sangat mudah marah. Itulah yang harus
dihadapinya selama hampir setengah abad. Bisa kita bayangkan bagaimana lelahnya
mental dan emosi Musa menghadapi bangsa seperti itu yang harus ia pimpin
atas tugas yang diberikan Tuhan kepadanya. Tapi Musa sanggup mengendalikan
emosinya dan terus mengikuti apa yang diperintahkan Tuhan untuk ia perbuat.
Dalam mengadapi covid 19, pemerintah
memberlakukan PSPB, (tidak keluar rumah, kalau keluar pakai masker dan jaga
jarak, tidak mudik, dsb), dengan tujuan agar cepat dapat memutus mata rantai penyebarannya.
Namun masih banyak dengan seenaknya pergi kesana kemari tanpa masker, masih
banyak yang mudik, seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa. Kelemah lembutan
berarti kita dapat menahan diri, dapat menahan emosi, tidak bersungut-sungut,
sekaligus belajar mengarahkan kehendak kita kepada kehendak Allah. Covid 19
sudah berjalan dua bulan dan pada bulan ke tiga ini gerafiknya sudah mulai
menurun. Karena itu, marilah kita menunjukkan kesabaran dalam iman kita,
membuktikan kekuatan pengharapan dalam
Tuhan, sebab segala sesuatu telah diatur oleh Tuhan untuk kebaikan kita. Kita
harus melihat umat Israel 40 tahun perjalanan dari Mesir ke tanah Kanaan, waktu
yang lama padahal dapat ditempuh dalam 1-2 bulan berjalan kaki. Tetapi mengapa
demikian, hal ini terjadi karena kekerasan hatinya, suka bersungut-sungut dan
tidak mau mengucap syukur. Marilah kita berbenah diri, belajar hidup dengan
lemah lembut yaitu hidup dalam kasih Allah maka kita menikmati kebahagiaan dari
Tuhan.
Mari berdoa:
Salam kasih dalam Y Kristus. TYM
Terpujilah Tuhan.. Aminn🙏
BalasHapus