Renungan Rabu Tgl 27 Mei 2020
Syalom ….mejuah-juah….. selamat pagi.
Hari yang baru…. hari yang baik penuh sukacita
Ayub 42:5
Hanya
dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku
sendiri memandang Engkau.”
Ayub orang yang saleh, jujur, dan menjauhi
kejahatan. Ia selalu setia mempersembahkan kurban kepada Allah. Walau bencana
menghantamnya bertubi-tubi
segala hartanya lenyap dalam hitungan menit, sepuluh
anaknya meninggal, tubuhnya dijangkiti penyakit, istrinya merongrong imannya,
para sahabat menyalahkannya tapi ia tetap teguh. Sekarang bukan hanya mendengarkan apa kata orang tentang
Allah, namun Ia
mengalami perjumpaan dengan Allah secara pribadi. Setelah melalui proses yang
cukup panjang, akhirnya Ia sadar bahwa dia telah mengeluarkan perkataan yang
keliru dan Ayub pun mencabut semuanya di hadapan Allah, dengan duduk merendahkan
diri dalam penyesalan. Akhirnya Ayub memiliki
suatu pengalaman baru dengan Tuhan, bukan lagi melalui apa kata orang melainkan matanya
sendiri memandang Tuhan, suatu pengalaman yang berharga dalam sejarah hidupannya.
Hanya mengenal dari kata orang tentang Allah, tidak akan membawa seseorang kepada pertumbuhan dan mampu menjadi orang Kristen sejati. Tetapi mengenal secara pribadi akan memampukan seseorang untuk terus bertumbuh di dalam kasih karunia, yaitu mencerminkan Kristus dalam hidup kita, dalam perkataan, juga dalam tindakan kita sehari-hari. Ada dua cara mengenal Allah: pertama, membaca dan mempelajari firman Tuhan. Kedua, belajar melalui penderitaan dan ujian. Ayub mengaku bahwa ia baru mengenal Allah setelah melewati ujian yang sangat berat. Bayangkanlah jika seluruh harta kekayaan kita habis, semua anak meninggal, terkena penyakit kulit yang parah dan menjijikkan, dan istri kita memaki, “Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu?
Pengalaman pribadi dari pahit menjadi manis, adalah
suatu hal yang mahal harganya, sebab sukacita
itu, tidak akan pernah dunia dapat berikan. Suatu pengalaman yang baru hanya kita dapatkan di
saat berjalan di dalam pimpinan-Nya, disaat sekeliling kita
semakin egois dan kejam, saat
orang tidak mau menerima keterbatasan kita, saat berada dalam
lembah kelam, namun kita bersyukur sebab tetap merasakan penyertaan Gembala Agung, setia memelihara dan memberi curahan berkat kasihNya, serta menuntunnya ke padang rumput yang hijau, dan
aliran air yang tenang. Walau badai hidup saat ini harus kita lalui, janganlah
menyerah sebab Tuhan sedang membentuk kita bagai emas yang
murni, membentuk
bejana hati kita. Katakan: Bapa ajarku mengerti sebuah kasih yang
selalu memberi, bagai air mengalir yang tiada
pernah berhenti.
Kita Berdoa
Salam Kasih dan Salam Sehat. TYM.
Komentar
Posting Komentar