Renungan Selasa Tgl 12 Mei 2020


Syalom ….mejuah-juah….. selamat pagi.  
Hari yang baru…. hari yang membawa berkat

Matius 5:4
Berbahagialah orang yang berduka cita karena mereka akan dihibur.

Duka Cita (Jun=Penthountes) menunjukkan  kedukaan karena kematian/musibah terhadap orang yang dikasihi. Kedukaan yang dialami begitu rupa sehingga tidak bisa untuk ditutup-tutupi, karena membuat perasaan kita sangat tertekan, sakit rasanya sehingga membuat kita menangis. Kalau dikatakan berbahagialah orang yang bertahan menghadapi kesedihan yang mendalam, karena mereka akan beroleh kekuatan! Kenapa? Karena banyak orang yang justru dalam saat kesedihan mereka menemukan ikatan kekeluargaan, arti persahabatan bahkan terutama menemukan kasih Allah.  Biasanya kalau kehidupan lancar-lancar saja, kita tidak pernah tahu dan tidak mau tahu tentang Tuhan sehingga kita tidak pernah merasakan betapa nikmat, betapa diberkatinya, betapa berbahagianya kehidupan orang-orang yang selalu bersama Tuhan.  Jadi duka cita terkadang memang perlu, karena dengan merasakan kesakitan, kita akan mengerti akan penghiburan.  

Dukacita termasuk juga terhadap orang yang menyesal dan bertobat atas dosa-dosanya. Orang yang bertobat adalah orang yang hatinya hancur, sadar betapa berdosanya dia. 2 Kor 5:17: orang-orang yang bertobat adalah hidupnya lahir baru, yang lama sudah berlalu dan yang baru sudah datang.  Jadi ucapan Yesus dalam ayat keempat ini dapat diartikan sebagai suatu teguran untuk semua orang, yaitu: hai orang yang berdosa hendaklah hatimu hancur dipenuhi oleh penyesalan dan pertobatan sehingga engkau akan menerima pengampunan, pembebasan, kelegaan, dan kedamaian, itulah yang disebut sebagai orang yang berbahagia.

         Jadi tidak semua orang juga yang berdukacita otomatis  disebut orang berbahagia, itu hanyalah orang yang dalam kedukaannya memilih datang dan berharap kepada Tuhan saja untuk mendapatkan penghiburan dialah orang yang berbahagia. Dalam situasi yang kita alami saat ini, banyak membawa duka dan luka terhadap hidup dan pengharapan kita, namun kita diingatkan jangan bergantung  pada situasi yang terjadi, maka perasaan dan pikiran tidak mudah diombang-ambingkan oleh dunia ini. Tetapi“berbahagialah orang yang berdukacita”, berarti  mau dan dengan teguh menjadikan Tuhan sumber sukacita, kebahagiaan, dan penghiburannya.  Tuhanlah perlindunganku Dialah kekuatanku, penolong di waktu susah sangat terbukti.  

Mari Berdoa: 
Salam sukacita, TYM. 




Komentar

  1. Haleluya Terima Kasih utk Renungan yg ditaburkan Pendeta.Haleluya...Tuhan memberkati...

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini