Renungan, Jumat tgl 26 Juni 2020
Mejuah-juah
…….. Selamat pagi
Hari
yang baru…….Hari yang baik dan menyenangkan
Markus
10:14-15
“Biarkan
anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan halang-halangi mereka, sebab orang-orang
seperti inilah yang memiliki Kerajaan Allah. Sesungguhnya Aku
berkata kepadamu: Siapa saja yang tidak menyambut Kerajaan Allah seperti
seorang anak kecil, ia tidak akan masuk ke dalamnya”
Para murid bertindak seperti
para pengawal orang “penting” ketika
mereka memarahi orangtua yang membawa anak-anaknya agar diberkati Yesus. Pandangan
para murid kepada anak-anak tidak begitu berarti apalagi waktu itu Yesus begitu
sibuk mengajar dan menyembuhkan orang sakit. Namun pandangan Yesus berbeda
dengan murid-muridNya terhadap anak-anak itu, dan justru Yesus malah memarahi
mereka, lalu menyambut anak-anak itu
dengan bebas dan penuh bahagia. Para murid tentunya terkejut ketika Yesus berkata:
“Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku. Sekali lagi Yesus menjungkir-balikkan
nilai-nilai yang dianut oleh para murid-Nya, bahwa kerajaan Allah yang
diajarkan oleh Yesus bukanlah merupakan sebuah bangunan kerajaan yang
didalamnya Allah duduk pada tahta dikelilingi para punggawa kerajaan dan abdi
dalem. Tetapi seperti dalam Roma 14:17 “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan
dan minuman tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh
Kudus.”
Orangtua mengasihi
anak-anaknya bukan karena mereka telah melakukan sesuatu sehingga pantas
memperoleh sesuatu dari orangtuanya. Itulah hakekat hidup, maka anak-anak itu mempercayai orang tuanya akan menjaga dan
mendidik mereka dalam kebenaran. Demikian juga Allah menghendaki kita agar
menaruh kepercayaan bahwa Dia akan menjaga dan memelihara anak-anak-Nya. Orang
percaya dapat merasakan kehadiran kerajaan Allah ketika ia bersikap seperti
anak kecil, yakni sikap tulus, percaya, dan bergantung kepada Allah dalam segala hal. Sikap tersebut akan terbentuk ketika orang
percaya menyediakan dirinya dipimpin
oleh Allah maka akan tercermin dalam tindakan dengan bertekun dalam Firman
Tuhan, tulus dalam kata dan perbuatan, dan setia dengan Allah.
Apakah kita diharapkan menjadi
“kekanak-kanakan”? Yesus tidak mengatakan “menjadi anak kecil lagi”, tetapi “kembali
seperti seorang anak kecil”, artinya, tetap jadi dewasa: Polos tapi tidak bodoh, bersahaja tapi tidak
naif, lembut tapi tidak lemah, sopan tapi menjaga diri. Seorang anak kecil
tidak memiliki keluhan, amarah, kecemburuan, kebencian dan terutama bebas dari ego
dan keangkuhan. Mereka tidak mengenal kehormatan atau penghinaan, tidak
memelihara dendam atau prasangka terhadap siapa pun. Kebahagiaan mereka berasal
dari diri mereka sendiri, dan mereka tidak membutuhkan kondisi eksternal untuk kebahagiaannya. Tentunya
dalam menjalani kehidupan ini, marilah kita terus belajar dengan penuh ketulusan,
kesetiaan, dan sukacita, maka kebaikan dan berkat Tuhan akan memelihara kita. Kau
Allah yang tiada mengingat lagi, segala kesalahanku yang telah Engkau ampuni,
walau dosaku merah bak kain kesumba, Engkau menjadikanku putih, seperti bulu
domba.
Mari berdoa:
Salam sehat dan penuh damai sejahtera. TYM.
Tq FirmanNya yg sdh ditaburkan hambaNya...haleluya.
BalasHapus