Renungan Rabu Tgl 01 Juni 2020


Mejuah-juah …….. Selamat pagi
Hari yang baru…….Hari yang baik dan menyenangkan  

Mas 84 :11
Sebab lebih baik satu hari di pelataran-Mu daripada seribu hari di tempat lain; lebih baik berdiri di ambang pintu rumah Allahku dari pada diam di kemah-kemah orang fasik.

Berada di pelataran Bait Allah, bagi Daud seperti berada di surga. Lihat saja hatinya yang mengatakan bahwa satu hari di pelataran tersebut jauh lebih baik daripada seribu hari di tempat lain.  Apakah  yang menarik dengan pelataran? Apabila kita ditanya, tempat apakah yang paling menyenangkan bagi Anda? Pantai? Gunung? Hutan? Plaza? Bagi Daud bukan tempat seperti itu, tetapi tinggal di pelataran Bait Allah, sebab di sana ia merasakan atmosfir hadirat Allah yang  sesungguhnya didapatkan di dalam ruang maha suci. Baru masuk pelataran saja sudah membuat Daud terkesima, apalagi masuk ke dalam ruang maha suci. Sekarang, setelah Yesus mati dan tirai itu robek dari atas ke bawah (Mat 27: 51), kita dapat “berduyun-duyun” masuk ke dalam ruangan itu (Ibr 10:19). Hadirat Allah tidak lagi menjadi milik imam besar, tetapi kita juga semuanya berhak memilikinya.

 Daud sadar hanya Tuhan satu-satunya yang dapat diandalkan sebagai penolong sejati, dan pribadi yang layak untuk disembah. Pagi, siang, malam dan dalam segala keadaan Raja Daud mencari Tuhan, dan senantiasa memuji dan menyembah bahkan merenungkan TauratNya. Raja Daud menulis ayat ini ketika dia mengerti bahwa di luar hadirat Tuhan, dia tidak menemukan ketenangan dan kedamaian. Namun tidak bisa dipungkiri bahwa kesibukan, bahkan masalah kita, jauh lebih besar dalam hidup ini, sehingga membuat kita jauh dari pelataranNya. Merindukan rumah Tuhan sama artinya merindukan Tuhan itu sendiri, karena mengacu kepada kondisi kehadiran Tuhan. Hanya dalam Bait Allah, umat bisa menumpahkan segala kerinduannya kepada Tuhan. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa Tuhan dan rumah-Nya begitu dirindukan? Jawabannya karena kasih dan kebaikan kebaikan-Nya akan menerangi dan menjadi perisai yang melindungi kita dari segala mara bahaya.  

Jadi penting untuk dihayati, jika dalam hati kita tidak memiliki cinta yang besar kepada Allah, maka jangan berharap akan sungguh-sungguh merindukan-Nya. Perasaan cinta dapat timbul di hati kalau seseorang mengerti besarnya kebaikan dan kasih Allah dalam hidupnya.   Tentunya saat ini kita tidak dapat lagi duduk apalagi dekat di pelataran  Gereja, bukan berarti Tuhan sudah jauh atau meninggalkan kita. Jelas tidak, sebab dimanapun, kapanpun, ketika kita  mengimani  dan mengandalkan Tuhan dengan sepenuh hati, dalam hidup ini, pasti ada kebahagiaan dan berkatNya mengalir terus bagi kita. Karena itu  nikmatilah “Kebanaran Allah”, “Sebab seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman” (Rm. 1:17). Marilah kita selalu merindukan hadirat Tuhan dalam perjalanan hidup ini, sebab dimana-mana ancaman maut, ancaman kecelakaan terus menanti kita. Tetapi hidup dekat dan merindukan cahaya Allah, kita akan pasti terus bersukacita senantiasa.


Mari berdoa: 
Salam sukacita dan salam sehat. TYM.

Komentar

  1. Haleluya......Tuhan memberkati kita..

    BalasHapus
  2. Kiranya Kasih Tuhan tetap menyertai kt selalu. Tuhan memberkati

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini