Renungan Rabu tgl 03 Juni 2020

Mejuah-juah …….. Selamat pagi
Hari yang baru…….Hari yang baik dan menyenangkan  

Kel 33:15-16
Berkatalah Musa kepada-Nya: "Jika Engkau   sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.   Dari manakah gerangan akan diketahui, bahwa aku telah mendapat kasih karunia di hadapan-Mu, yakni aku dengan umat-Mu ini? Bukankah karena Engkau berjalan bersama-sama dengan kami   sehingga kami, aku dengan umat-Mu ini, dibedakan dari segala bangsa yang ada di muka bumi   ini?"

  Akibat dari umatnya menyembah patung lembu emas, maka ketika melanjutkan perjalanannya ke tanah Kananaan, Tuhan berkata bahwa ia akan mengutus malaikatNya untuk menyertai mereka. Dengan berani dan rendah hati, Musa mengutarakan isi hatinya: "Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini. Ia merasa tidak mampu kalau Allah tak ikut serta, itu sebuah indikasi bahwa Musa sangat bergantung kepada- Nya. Tanpa Allah. Lebih baik Musa diam daripada harus melangkah bersama umatNya tanpa Dia.  

Allah telah berjanji bahwa Ia akan melindungi umatNy dan akan memberikan tanah yang dijanjikan. Namun karena kejahatan dan dosa-dosa yang diperbuat Israel, Allah tidak akan hadir secara khusus lagi diantara mereka. Bangsa Israel bersedih (berkabung) atas keputusan Allah bagi mereka. Karena tak akan ada gunanya memperoleh tanah perjanjian tetapi kehilangan makna kehadiran Tuhan?  Mereka memiliki identitas sebagai bangsa pilihan ketika Allah beserta mereka. Israel adalah bangsa yang berbeda dengan bangsa lain karena kehadiran Allah ditengah-tengahnya. Mana mungkin umat akan bahagia hidup ditanah yang dijanjikanNya, tapi kehilangan makna kehadiran Allah?! Kepada orang yang “mencari Tuhan” mereka boleh masuk ke dalam hadiratNya dan menikmati kehadiran Tuhan yang memberi kemenangan. Oleh sebab itu, keselamatan dan kemenangan yang diraih orang percaya, membuat kehidupan berpusat pada kehadiran Tuhan kepada umatNya.


Berangkat dari pengalaman Musa, kita hendaknya bisa belajar satu hal paling penting dalam kerangka spiritualitas, bahwa yang menjadi prinsip adalah betapa pentingnya penyertaan Allah dalam setiap aktivitas kita.  Kita harus berani memastikan kepada diri kita, kepada keluarga kita, kepada sesama kita bahwa Allah tetap beserta kita. Perjalanan panjang yang sudah dilalui dan yang akan dijalani di padang Gurun jelas tanpa arah dan tanpa batas. Disamping adanya bahaya dari binatang-binatang buas, orang-orang jahat, tentunya banyak juga ancaman dari Israel sendiri yang selalu mengandalkan kekuasaannya. Capek, sedih, lelah, takut dan gelap. Itulah sekarang jalan hidup yang harus kita lalui menantang Covit 19 ini. Ancaman bisa saja datang dari manapun yang akan meleyapkan kita, yang penting adalah sama seperti pengakuan Musa: kami tetap terus berjalan, bila Tuhan ikut serta. Ku tau benar ku di pegang erat, di gunung tinggi dan samudra, ditaufan gelap ku didekap, Bapa sorgawi trus menjagaku.  
Mari Berdoa: 
Salam sukacita dan salam damai. TYM. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini