Renungan Rabu Tgl 17 Juni 2020



Mejuah-juah …….. Selamat pagi
Hari yang baru…….Hari yang baik dan menyenangkan

Filipi 4:11-12
Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri  dalam segala keadaan.   Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan,   baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.  

Kehidupan seperti apakah yang terhormat bagi orang Kristen? Alkitab mengajarkan bahwa kehidupan yang terhormat adalah merasa cukup, dan belajar mencukupkan diri di dalam segala hal, maka kita hidup bahagia.  Mencukupkan diri' (bhs Yunani Autos artinya diri sendiri, Arkheo artinya cukup atau penuh).  Aku telah belajar, adalah merupakan filosofi hidup yang diperoleh lewat proses belajar (Tim 6:7), namanya: sekolah kehidupan yakni penjara. Di sekolah ini rasul Paulus belajar kesehatan, ketaatan, kesulitan serta  kekayaan dan kemiskinan,  kasih dan kebencian. Di dalam penjara ia belajar tentang mencukupkan diri, (Fil 4:12). Jadi rahasia mencukupkan diri bukanlah hanya semata perasaan berpuas diri, melainkan juga berpuas dengan kasih karunia Allah. 1Tim 6:10 “akar segala kejahatan ialah cinta uang”. Orang percaya haruslah tahu bagaimana menghadapi kelimpahan dan menghadapi kesulitannya dalam segala keadaan. Kita tidak hanya mengejar kekayaan, tapi kita juga harus melayani untuk kerajaan Allah dengan materi juga (1Tim 6:9).
  
Rasul Paulus tanpa campur tangan orang lain, ia sendiri menguasai kekayaan dan kemiskinan. Contoh Ayub di PL, ketika memiliki ia mencukupkan diri dan saat ia tidak memiliki pun, ia hidup dengan sikap mencukupkan diri. (Ayb 31:24-25). Karena itu janganlah mengeluh karena kehidupan miskin, tapi mari kita mencukupkan diri,  dan bersyukur.  Ketika kita hidup dengan berlimpah,  janganlah  hidup serakah.  Dalam situasi  apakah kita bisa menjadi tidak percaya,  dan kehilangan sikap mencukupkan diri?  Yaitu ketika kita tidak percaya lagi akan pememeliharaan Tuhan, (Mzm 16:5), serta ketika telah diseret oleh hawa nafsu (Yak 1:15).

Kebahagiaan bukanlah keadaan tapi keputusan hati, bukan karena mewahnya hidup, tetapi  kemampuan kita dalam menikmati dengan penuh rasa syukur, itulah yang akan membawa kita ke dalam kebahagiaan. Bagi Paulus kepuasan bukan ditentukan oleh kekurangan atau kelebihan, melainkan menerima dengan sukacita berapa pun porsi berkat yang Tuhan tetapkan untuk kita. Dalam kondisi Covid-19 yang berkepanjangan dan tanpa kepastian ini, mungkin kondisi ekonomi keluarga kita tidak setabil lagi, jatuh bangun bahkan menurun. Dengan Firman hari ini, mengingatkan kita bahwa walaupun kondisi ekonomi dan kesehatan tidak setabil, tapi percayalah kuasa Allah dalam janjiNya. Kita telah belajar dalam sekolah kehidupan sampai saat ini, dan tetap mengajari, serta memperlengkapi kita, sehingga mampu mencukupkan diri, serta tetap bersyukur atas pemeliharaan-Nya. Kuberserah, pada rencanamu ku tau Tuhan baik bagiku. 

Mari Berdoa: 
Salam sukcita dan Salam sehat. TYM

Komentar

Postingan populer dari blog ini