Renungan Kamis 02 Juli 2020
Mejuah-juah …….. Selamat pagi
Hari yang baru…….Hari yang baik dan
menyenangkan
Lukas 10: 27
"Kasihilah
Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan
segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu
manusia seperti dirimu sendiri."
Merenungkan dan melakukan Firman Tuhan tentang mengasihi
sesama bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan, sebab setiap hari kita selalu berhadapan
dengan maraknya praktik kekerasan, ancaman, ujaran-ujaran kebencian dan masalah
lainnya. Dalam situasi seperti itu kita dapat berefleksi dari cara Yesus
menghadapi seorang ahli Taurat yang datang dengan mengujiNya atas sebuah
pertanyaan yang menjebak yaitu tentang "Hidup kekal". Namun Yesus membalikan keadaan dan mengubahnya
menjadi hal yang baik dengan mengisahkan perumpamaan "Orang Samaria yang
murah hati"Yesus menjawab dengan mengajukan sebuah pertanyaan: Apa yang
tertulis dalam hukum Taurat? Dr.
Lightfoot, orang Yahudi primitif mengartikan : "Kasihilah sesamamu
manusia, menunjuk kepada kaum sebangsanya sendiri, sesuku mereka sendiri. Artinya mereka hanya
memahami bahwa orang-orang di luar Israel bukanlah sesama mereka. Yesus ingin meluruskan pemikiran mereka yang
salah bahkan tidak manusiawi ini, bahwa sesama mereka adalah semua orang, tanpa
memandang suku, bangsa, agama, atau status apapun yang melekat pada dirinya,
sebab semuanya adalah anak-anak Allah.
Setelah mengisahkan
perumpamaan itu Yesus bertanya kepada pakar Taurat itu:Sekarang katakan
kepada-Ku, Siapakah di antara ketiga orang ini (imam, orang Lewi, atau orang Samaria ) adalah sesama manusia dari orang yang jatuh
ke tangan penyamun itu Ahli Taurat itu menjawab ,"Orang yang
telah menunjukkan belas kasihan kepadanya." Maka Yesus berkata: Pergilah,
dan perbuatlah demikian. Jelas bahwa tidak semua orang yang menjumpai kita
datang dengan niat yang baik, namaun demikian kita belajar dari Yesus, mampu mengubah
prasangka buruk ahli Taurat dan membawanya untuk memahami kebenaran sejati. Atau juga kita juga mungkin
berjumpa dengan orang-orang salah paham, curiga, menuduh, dan menyakiti orang
lain dengan ujaran-ujaran yang menyakitkan, maka marilah kita belajar dari
Yesus untuk saling mengampuni.
Kita semua adalah orang-orang yang bersaudara, sebab semua orang
adalah sesama kita, sahabat kita. Martin Luther: “Iman seperti terang, harus
sederhana dan lurus, sedangkan kasih seperti kehangatan, harus memancar ke
segala arah dan menekuk ke segala kebutuhan saudara kita Untuk itu perlu keterbukaan, kedekatan dan
keakraban. Memang untuk menerima kelebihan dan kekurangan yang ada pada mereka
yang kita kasihi, tidaklah mudah, sebab harus belajar dari hidup Yesus yang mau
merendahkan diri, berkorban bagi penebusan dosa kita. Perbaikilah retak-retak sakit hati yang ada,
dengan sapaan tulus, dan mengampuni. Silang sengketa tidak mungkin selalu
dihindari, tetapi jangan sampai menghilangkan kasih yang ada. Kita boleh
berbantah untuk mencari kebenaran, tapi tidak untuk membenarkan diri. Bila
perlu mengalah, mau mundur daripada kehilangan tali kasih yang lebih berharga. Belajarlah
terus untuk mengasihi dan berjanji untuk mengampuni.
Mari Berdoa:
Selamat berkarya dan salam sehat. TYM.
Haleluya...Terima Kasih Pdt renungsnNya pada pagi ini yg sudah pdt taburkan...haleluya Gbu.
BalasHapusTerima kasih Pdt Maslon Ginting ats renungan pagi, Tuhan Yesus mengasihi kita.. Amin
BalasHapus