Renungan Senen Tgl 31 Agust 2020
Selamat
pagi dan salam sejahtera dalam kasih Yesus, kiranya terus memelihara kita hari
ini.
Mari berdoa
Ratapan
3: 22-23
Tak berkesudahan kasih setia Tuhan tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi, besar kesetiaan-Mu!
Ketika kembali teringat akan kondisi Israel, jiwanya tertekan dan tidak memiliki ketenangan. Dia juga teringat akan sengsara dan penderitaan yang terjadi, yakni Yerusalem runtuh dan menjadi sangat sunyi sebab Allah murka kepada Sion sehingga bangsa tercerai-berai dan dibuang ke Babel. Israel menderita sengsara serta telah menjadi bahan ejekan, sebab dahulunya memiliki kebanggaan dan mengalahkan musuh-musuh kini diperbudak bangsa lain dan menjadi bahan ejekan. Pemahaman yang baik akan hal ini akan memunculkan pengharapan bagi kita, sebuah pengharapan yang membuat semakin percaya kepada penyertaan Tuhan. Ingat, Allah tidak pernah ingkar janji, dan kita seharusnya lebih percaya dan berharap kepadaNya. Seperti matahari pasti terbit setiap pagi, rahmat Allah selalu baru setiap hari.
Yeremia mendorong Israel, meskipun mereka masih hidup dalam kesengsaraan, marilah belajar untuk melihat bahwa kasih Allah tidak pernah berkesudahan, walau apapun yang terjadi. Meskipun penderitaan tidak akan lepas dan bahkan mungkin sampai mati penderitaan akan senantiasa bersama dengan kita, marilah mengingat karakter Allah yang penuh kasih dan kebaikan yang melahirkan iman dan akan melahirkan sebuah komitmen. Mazmur 73, Daud sangat bergumul karena penderitaan dari orang fasik, tetapi mendapat banyak berkat pada saat dia menderita. Dalam pergumulannya sampai pada sebuah titik kesadaran ia berkata, “Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya” (Maz 73:25-26). Komitmen yang melahirkan pengharapan ini juga akan menghasilkan sebuah sikap yaitu sebuah pengharapan kepada Tuhan.
Memiliki dan dimiliki Tuhan jauh melebihi
apapun. Memiliki berkat Allah tidak sama dengan memiliki Allah, karena orang
yang tidak beriman pun bisa diberkati Allah. Dan sering sekali orang Kristen
lebih fokus dan mencintai berkat dari pada Allah itu sendiri. Ingat ketika kita
memiliki Allah maka berkatnya pasti akan kita miliki, tetapi ketika kita
memiliki berkatNya Sang Pemberi berkat belum tentu kita miliki. Pada saat
masalah datang kita langsung mengeluh, persungut-sungut, dan marah padahal hal
ini diijinkan terjadi adalah demi kebaikan kita. Karena itu jangan pernah berharap dan
mengandalkan manusia, melainkan berharaplah hanya kepada Tuhan, karena Dia
adalah Pribadi yang penuh kasih, penuh berkat dan pemeliharaanNya akan terus dari
hari ke hari di sepanjang hidup kita.
Inilah janji Tuhan, dan hal ini membuktikan bahwa Tuhan selalu memberi
yang terbaik dan tidak pernah mengecewakan anak-anakNya. Milikilah kasih setia
Tuhan yang selalu baru tiap pagi, bergembiralah dan belajarlah bersyukur.
Shaloom.... selamat pagi, terimakasih renungannya pak Pdt Maslon Ginting. Tuhan Yesus memberkati... Amin
BalasHapus