Renungan 24 April 2026
Syalom….
Renungan,
24 April 2026
Hakim-hakim
6:13
Jika
Tuhan menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami?
Manusia terlalu mudah mengukur kehadiran Tuhan
dari kestabilan keadaan dan selalu merasa
aman saat hidup tertata baik, lalu goyah dan layu ketika semuanya terguncang
oleh masallah. Tanpa sadar, kenyamanan adalah menjadi pondasi iman. Firman
Tuhan mengajak kita agar dapat melihat lebih dalam dari apa yang tampak saja,
tetapi lebih dari itu. Manusia selalu cenderung
menganggap keteraturan sebagai tanda Tuhan dekat, dan kekacauan sebagai bukti
Dia jauh. Padahal iman menunjukkan bahwa Tuhan selalu bekerja di tengah
situasi yang sulit dipahami. Disana iman dilatih untuk bertumpu pada
kepercayaan, bukan pada keadaan.
Di zaman yang
bising dan tak menentu ini, banyak orang tampaknya religius tetapi sering kehilangan
arah dalam membaca realitas. Iman dijalani sebagai rutinitas, sementara makna
hidup, diam-diam diikat pada kestabilan keadaan. Ketika dunia berubah, batin
pun goyah. Di titik ini, kasih sering disempitkan menjadi kewajiban untuk terus
mengalah, seolah-olah mengampuni berarti membiarkan ketidakadilan. Iman yang
matang menuntun kita kepada arah yang benar, yakni memegang kasih tanpa
menanggalkan keadilan dan berani berdiri dalam kasih tanpa kebencian. Transformasi
dimulai saat kita berhenti mencari kepastian semu, memilih bertumbuh
di tengah kabut, dan terus melangkah bahwa Tuhan tetap memimpin langkah kita.
Komentar
Posting Komentar